|
|
«
Kembali
:: The Dominant Paradigma and Cost of
Development: Some Implications for Indonesia
Penulis : Stepanus Djuweng
Atas
nama pembangunan. Demi pembangunan. Developmentalism yang mengalir dari paham
barat kemudian diadaptasikan ke dalam garis-garis besar haluan negara era rezim
Orde Baru. Melawan pembangunan di era itu identik dengan melawan pemerintah.
Sakralisme "pembangunan" oleh pemerintah menghasilkan masyarakat yang apatism.
Kebhinekaan manusia dan wilayah nusantara disalahartikan "hanya" untuk
pembangunan. Padahal dampaknya ada sekelompok warga negara Indonesia yang
menderita, terpinggirkan dan kehilangan hak-hak kemerdekaannya.
Paham pembangunan ini lambat laun kini menjadi "bumerang" bagi penguasa dan
pengusaha pada masa itu. Masyarakat inginnya segala aktivitas berbangsa dan
bernegara dilaksanakan dalam bingkai kesinambungan. Di mata penguasa kegiatan
pembangunan untuk pertumbuhan ekonomi semata, meskipun mengorbankan rakyat kelas
bawah. Sementara kacamata masyarakat adat melihat yang lebih utama adalah
menjaga kesinambungan sumber daya alam yang ada tanpa ada yang terkorbankan atau
dikorbankan. Hanya sayangnya pemerintah masih melirik hutan untuk diobok-obok
sebagai komoditi tukar untuk memperkecil utang.
Ukuran : 10 cm x 17,5 cm ; iv + 44 halaman
Cetakan 2, Desember 1997
Harga : Rp. 3.000,- |
|